#MYKIREILIFESTYLE
#MYKIREILIFESTYLE | 28 July 2026

Pernah merasa mengantuk saat bersiap tidur, tetapi justru jadi segar kembali setelah membuka media sosial?
Jika hal ini sering terjadi, penyebabnya bukan sekadar karena terlalu asyik scrolling. Paparan layar ponsel di malam hari memang dapat mengganggu ritme sirkadian atau sinyal alami tubuh untuk tidur.
Padahal, tidur yang cukup merupakan salah satu implementasi Kirei Lifestyle yang berperan penting untuk menjaga daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi, hingga menjaga kesehatan mental sehingga hidup lebih selaras.
Penting untuk mengetahui dampak screen time pada tubuh, terutama jika sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Yuk, kenali berbagai dampaknya!
Screen time adalah durasi yang dihabiskan untuk menggunakan perangkat digital, seperti ponsel, tablet, komputer, atau televisi. Meski bermanfaat untuk bekerja dan berkomunikasi, penggunaan layar yang berlebihan, terutama menjelang tidur, dapat mengganggu ritme alami tubuh.
Tubuh manusia memiliki jam biologis atau ritme sirkadian yang mengatur siklus bangun dan tidur selama sekitar 24 jam.
Saat pagi hari dan terkena sinar matahari, tubuh menghasilkan hormon kortisol yang membuat kita lebih segar dan fokus.
Ketika malam tiba dan cahaya mulai berkurang, tubuh mulai memproduksi melatonin agar kita merasa mengantuk dan siap tidur.
Masalahnya, layar ponsel, tablet, komputer, dan televisi memancarkan cahaya biru (blue light). Cahaya ini ‘menipu’ otak seolah-olah hari masih siang, sehingga produksi melatonin menjadi berkurang atau tertunda. Akibatnya, rasa kantuk pun ikut menghilang. Akibatnya, kita membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur meskipun sebenarnya sudah merasa lelah.
Bahkan, sebuah studi yang diterbitkan di Frontiers in Psychiatry mengungkap melakukan screen time satu jam sebelum tidur meningkatkan 59% gejala insomnia.

Paparan cahaya biru sebelum tidur tidak hanya membuat kita sulit terlelap, tetapi juga mengurangi kualitas tidur. Beberapa dampaknya antara lain:
Dampak yang dapat dirasakan antara lain:
Membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur
Karena produksi melatonin terhambat, otak masih menganggap hari belum berakhir sehingga tidak muncul rasa kantuk.
Durasi tidur menjadi lebih pendek.
Waktu tidur yang tidak sesuai berdampak pada proses pemulihan energi dan perbaikan sel-sel yang rusak karena waktu tidur yang lebih sedikit.
Mengurangi waktu tidur lelap (slow-wave sleep) dan REM sleep.
Sudah tidak
Masih
Sudah dikurangi
RECOMMENDATION
PODCAST