#MYKIREILIFESTYLE
#MYKIREILIFESTYLE | 24 June 2026

Di era digital saat ini memang membuat banyak hal jadi lebih mudah. Hanya lewat satu klik, kita bisa mendapat informasi, berkomunikasi, sampai menyelesaikan berbagai aktivitas dengan lebih cepat.
Namun di balik kemudahan itu, penggunaan teknologi digital yang berlebihan juga bisa memberikan dampak negatif. Notifikasi yang terus bermunculan, kebiasaan membuka banyak aplikasi sekaligus, hingga dorongan untuk selalu update membuat otak seolah tidak pernah benar-benar beristirahat.
Tanpa sadar, distraksi akhirnya menjadi bagian dari keseharian. Kondisi ini bukan sekadar membuat sulit fokus, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental. Salah satunya memicu fenomena yang dikenal sebagai popcorn brain, yaitu kondisi ketika otak terbiasa berpindah perhatian terlalu cepat karena terus terpapar stimulasi digital. Simak lebih detail tentang popcorn brain dan bagaimana cara mengatasinya.
Mengutip dari Mayo Clinic, istilah ini diciptakan oleh David M. Levy, Ph.D., seorang ilmuwan komputer di Universitas Washington, yang menggambarkan popcorn brain sebagai "seseorang yang sangat tertarik pada multitasking elektronik sehingga kehidupan offline bergerak lebih lambat dan menjadi kurang menarik."
Singkatnya, popcorn brain adalah istilah untuk menggambarkan kondisi otak yang sulit fokus karena terbiasa berpindah perhatian dengan cepat layaknya popcorn yang meletup-letup. Sehingga aktivitas dunia nyata terasa lebih lambat, membosankan dan menjadi kurang menarik.
Padahal, otak yang sehat idealnya mampu fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu. Misalnya saat bekerja, belajar, atau berbicara dengan orang lain.
Baca juga: Yuk, Tingkatkan Kualitas Hidup dengan Digital Detox! Simak Caranya!
Seorang psikiater dan ahli Saraf dari Apollo Neuroscience, Dr. Dave Rabin, menjelaskan otak itu memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian, persis seperti otot. Jika kita tidak melatih otak untuk fokus, otot perhatian tersebut akan melemah. Akibatnya, kita jadi susah mengatur fokus dan menentukan apa yang benar-benar penting.
Misalnya, kamu sedang menyusun materi presentasi. Namun setiap beberapa menit sekali kamu mengecek notifikasi WhatsApp, membuka Instagram, lalu kembali ke pekerjaan. Akibatnya, tugas yang seharusnya selesai dalam 1 jam menjadi 2-3 jam karena otak terus-menerus berpindah fokus. Lama-kelamaan kalau dilakukan setiap hari di berbagai aktivitas, kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama pun akan menurun.

Mengutip dari website kesehatan Patient, ada beberapa tanda popcorn brain yang sering terjadi, seperti:
Kurang fokus membaca, mengerjakan tugas, atau saat mengobrol.
Adanya dorongan untuk memeriksa ponsel bahkan saat tidak ada notifikasi.
Sulit bersantai di malam hari.
Sering beralih antar aplikasi, tab, atau tugas.
Merasa gelisah saat dalam kondisi santai.
Beberapa kebiasaan sehari-hari yang dapat memicu popcorn brain, di antaranya:
Doom scrolling, atau scroll media sosial secara terus-menerus
Menonton film atau serial secara maraton tanpa jeda
Menonton video pendek
Adanya notifikasi pada smartphone terus-menerus, sehingga membuat ingin terus mengeceknya.

Teknik Podomoro
Menerapkan hidup mindful
Digital detoks
RECOMMENDATION
PODCAST