facebook

#MYKIREILIFESTYLE

ticket

Terlalu Sering Scrolling Bisa Picu Popcorn Brain, Kenali Ciri-ciri dan Cara Mengatasinya!

Selalu harus update dan menerima informasi yang instan begitu cepat. Tanpa sadar, kebiasaan ini bisa memicu kondisi yang disebut popcorn brain. Yuk, kenali apa itu popcorn brain dan cari tahu cara tetap fokus di tengah banyaknya distraksi!

Di era digital saat ini memang membuat banyak hal jadi lebih mudah. Hanya lewat satu klik, kita bisa mendapat informasi, berkomunikasi, sampai menyelesaikan berbagai aktivitas dengan lebih cepat.

Namun di balik kemudahan itu, penggunaan teknologi digital yang berlebihan juga bisa memberikan dampak negatif. Notifikasi yang terus bermunculan, kebiasaan membuka banyak aplikasi sekaligus, hingga dorongan untuk selalu update membuat otak seolah tidak pernah benar-benar beristirahat.

Tanpa sadar, distraksi akhirnya menjadi bagian dari keseharian. Kondisi ini bukan sekadar membuat sulit fokus, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental. Salah satunya memicu fenomena yang dikenal sebagai popcorn brain, yaitu kondisi ketika otak terbiasa berpindah perhatian terlalu cepat karena terus terpapar stimulasi digital. Simak lebih detail tentang popcorn brain dan bagaimana cara mengatasinya.

Apa Itu Popcorn Brain?

Mengutip dari Mayo Clinic, istilah ini diciptakan oleh David M. Levy, Ph.D., seorang ilmuwan komputer di Universitas Washington, yang menggambarkan popcorn brain sebagai "seseorang yang sangat tertarik pada multitasking elektronik sehingga kehidupan offline bergerak lebih lambat dan menjadi kurang menarik."

Singkatnya, popcorn brain adalah istilah untuk menggambarkan kondisi otak yang sulit fokus karena terbiasa berpindah perhatian dengan cepat layaknya popcorn yang meletup-letup. Sehingga aktivitas dunia nyata terasa lebih lambat, membosankan dan menjadi kurang menarik. 

Padahal, otak yang sehat idealnya mampu fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu. Misalnya saat bekerja, belajar, atau berbicara dengan orang lain.

Baca juga: Yuk, Tingkatkan Kualitas Hidup dengan Digital Detox! Simak Caranya!

Seorang psikiater dan ahli Saraf dari Apollo Neuroscience, Dr. Dave Rabin, menjelaskan otak itu memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian, persis seperti otot. Jika kita tidak melatih otak untuk fokus, otot perhatian tersebut akan melemah. Akibatnya, kita jadi susah mengatur fokus dan menentukan apa yang benar-benar penting. 

Misalnya, kamu sedang menyusun materi presentasi. Namun setiap beberapa menit sekali kamu mengecek notifikasi WhatsApp, membuka Instagram, lalu kembali ke pekerjaan. Akibatnya, tugas yang seharusnya selesai dalam 1 jam menjadi 2-3 jam karena otak terus-menerus berpindah fokus. Lama-kelamaan kalau dilakukan setiap hari di berbagai aktivitas, kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama pun akan menurun.

Tanda-Tanda Popcorn Brain

5074ddcbcda11eccfa0013723eadc1bc.webp

Mengutip dari website kesehatan Patient, ada beberapa tanda popcorn brain yang sering terjadi, seperti:

  • Kurang fokus membaca, mengerjakan tugas, atau saat mengobrol.

  • Adanya dorongan untuk memeriksa ponsel bahkan saat tidak ada notifikasi.

  • Sulit bersantai di malam hari.

  • Sering beralih antar aplikasi, tab, atau tugas.

  • Merasa gelisah saat dalam kondisi santai.


Beberapa kebiasaan sehari-hari yang dapat memicu popcorn brain, di antaranya:

  • Doom scrolling, atau scroll media sosial secara terus-menerus 

  • Menonton film atau serial secara maraton tanpa jeda 

  • Menonton video pendek

  • Adanya notifikasi pada smartphone terus-menerus, sehingga membuat ingin terus mengeceknya. 

Tips Melatih Otak Kembali Fokus

1664faf68786d8acc191373e61ef6e7f.webp

Cara yang sudah kamu lakukan untuk mendapatkan fokus harian?

Teknik Podomoro

Menerapkan hidup mindful

Digital detoks

0 comments
Newest
Newest
Oldest

PODCAST

Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda pada situs web kami, mempersonalisasi konten dan iklan, serta menganalisis lalu lintas kami. Kami juga membagikan informasi tentang penggunaan Anda atas situs web kami dengan mitra periklanan dan analitik kami, yang dapat menggabungkannya dengan informasi lain yang telah Anda berikan kepada mereka atau yang telah mereka kumpulkan dari penggunaan Anda atas layanan mereka. Silakan klik Accept All Cookies jika Anda setuju dengan penggunaan semua cookies kami. Silakan klik Cookies Setting untuk menyesuaikan pengaturan cookies Anda di situs web kami. Anda dapat mengelola pengaturan cookie dengan mengeklik tautan Kebijakan Privasi di footer.
Pengaturan Cookies: