LOVE OTHERS
LOVE OTHERS | 11 March 2026

Kenapa Usia 1–2 Tahun Rentan “Drama” Sebelum Tidur?
Cara Membantu Si Kecil Lebih Siap Tidur (Tanpa Drama Berlebihan)
1. Mulai Rutinitas yang Konsisten dan Mudah Diprediksi
2. Kenali Tanda Lelah Si Kecil
Menjelang waktu tidur Si Kecil, momen yang seharusnya tenang justru sering berubah menjadi tantangan tersendiri bagi banyak Mom dan Dad. Si Kecil mendadak menolak masuk kamar, ingin terus bermain, minta dibacakan cerita lagi, ingin ke toilet lagi, atau menangis saat lampu mulai diredupkan.
Jika Mom sedang berada di fase ini, faktanya, ini sangat umum terjadi pada anak usia 1–2 tahun. Bukan karena mereka ingin menguji kesabaran, melainkan karena secara perkembangan, mereka memang sedang belajar memahami batas, rasa aman, dan transisi dari aktif ke tenang.
Di usia 1–2 tahun, Si Kecil sedang berada dalam fase perkembangan kemandirian (autonomy stage). Ia mulai ingin menentukan pilihan sendiri, termasuk kapan harus berhenti bermain.
Menurut situs Parenting Place, penolakan tidur sering kali bukan karena anak tidak mengantuk, melainkan karena ia kesulitan beralih dari aktivitas yang menyenangkan ke waktu istirahat.

Di fase ini juga, separation anxiety masih cukup kuat. Momen menjelang tidur melibatkan transisi, dari aktif ke tenang, dari bersama menjadi lebih minim interaksi. Dan transisi inilah yang sering memicu penolakan.
Menurut situs parenting Child Sleep Specialist, overstimulasi sepanjang hari juga dapat membuat anak menjadi overtired. Ketika tubuh terlalu lelah, hormon stres bisa meningkat sehingga anak justru menjadi lebih rewel dan sulit tenang.
Di usia ini Si Kecil belum mampu berkata, “Aku lelah.” Jadi rasa lelah, kebutuhan untuk terkoneksi, atau rasa tidak nyaman sering muncul dalam bentuk perilaku.
Mom tidak perlu khawatir karena fase ini bisa dikelola. Bukan dengan memaksa, namun dengan pendekatan yang konsisten, penuh empati, dan bertahap, termasuk jika Mom ingin mulai menerapkan sleep training.
Baca juga: Kenali Gejala Separation Anxiety Disorder (SAD) pada Bayi
Dengan pendekatan yang konsisten dan bertahap, tubuh dan emosi Si Kecil bisa belajar mengenali bahwa malam adalah waktu untuk beristirahat. Berikut beberapa langkah yang bisa Mom terapkan:
Si Kecil merasa lebih aman ketika ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Rutinitas membantu tubuhnya membaca sinyal bahwa waktu tidur sudah semakin dekat. Transisi yang jelas dari aktif ke tenang membuat proses tidur terasa lebih natural, bukan mendadak.
Rutinitas tidak perlu rumit. Justru yang sederhana dan berulang setiap hari akan lebih efektif, misalnya:
Rapikan mainan bersama
Mandi air hangat
Pakai piyama
Baca satu buku favorit
Peluk, doa, lalu lampu diredupkan
Ketika pola ini dilakukan secara konsisten, tubuh Si Kecil akan mulai mengenali: “Oh, setelah ini waktunya tidur.” Rutinitas tidak harus sempurna setiap hari. Wajar kalau jadwal sedikit mundur atau cerita jadi dua buku, bukan satu. Yang penting adalah pola besarnya konsisten, bukan detail kecilnya yang terlalu kaku.
Tubuh Si Kecil yang terlalu lelah memproduksi hormon stres yang membuatnya makin sulit tenang. Child Sleep Specialist menjelaskan bahwa anak yang terlalu lelah sering kali justru lebih sulit tidur dibanding anak yang ditidurkan di waktu yang tepat.
Jam 8-9 malam
Jam 9-10 malam
Di atas jam 10 malam
RECOMMENDATION
PODCAST