facebook

#MYKIREILIFESTYLE

ticket

Peduli Lingkungan Bisa Dimulai dari Kebiasaan Pilah Sampah di Rumah

Yuk, kenali manfaat memilah sampah dan bagaimana memulainya dari rumah.

Ajakan untuk memilah sampah dari rumah semakin sering disampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mengurangi beban pengelolaan sampah.

Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, perkantoran, hingga sektor usaha, dan sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Akibatnya, kapasitas TPA semakin terbebani sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke sana. 

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Karena itu, pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sesuai jenisnya agar lebih mudah didaur ulang atau diolah kembali.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan bahwa timbulan sampah di Jakarta mencapai lebih dari 3,1 juta ton per tahun. Namun, upaya pengurangan sampah baru mencapai sekitar 809 ribu ton per tahun atau sekitar 26% dari total timbulan sampah. Angka ini menunjukkan bahwa masih diperlukan partisipasi masyarakat yang lebih luas untuk mengurangi sampah sejak dari rumah.

Secara nasional, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia menghasilkan sekitar 33,79 juta ton sampah pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 50,8% berasal dari rumah tangga, menjadikan sektor rumah tangga sebagai penyumbang sampah terbesar secara nasional. 

Besarnya jumlah sampah rumah tangga menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Salah satu langkah yang dapat dimulai adalah membiasakan diri memilah sampah sesuai jenisnya.

Kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa cukup besar. Selain membantu mengurangi sampah yang berakhir di TPA, pemilahan sampah juga memudahkan proses daur ulang dan pengolahan sampah sehingga lebih banyak material yang dapat dimanfaatkan kembali.

Sejalan dengan semangat Kirei, perubahan positif sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Baca jugaAyo, Pilah dan Setor Kemasan Produk Kao di Aplikasi Rekosistem

Mengapa Sampah Perlu Dipilah?

Secara umum, sampah rumah tangga dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik meliputi sisa makanan, kulit buah, dan daun-daunan yang dapat terurai secara alami. Sementara itu, sampah anorganik mencakup plastik, kertas, kaca, dan logam yang dapat didaur ulang melalui proses tertentu.

Selain menghasilkan lebih dari 33 juta ton sampah per tahun, Indonesia juga menghadapi fakta bahwa sekitar separuh komposisi sampah nasional merupakan sampah organik. Artinya, pemilahan sederhana antara sampah organik dan anorganik di rumah dapat menjadi langkah awal yang penting untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA serta meningkatkan peluang pengolahan dan daur ulang sampah.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), pemilahan sampah di sumber menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan meningkatkan peluang material yang masih bernilai untuk didaur ulang. Ketika sampah tercampur, banyak material yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali justru menjadi terkontaminasi dan sulit diproses.

Dengan memilah sampah sejak awal, sampah organik dapat lebih mudah diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke rantai daur ulang.

Baca jugaSaatnya Upgrade Gaya Hidup Berkelanjutan dengan Pilah Sampah

Apa yang Terjadi Jika Sampah Dicampur?

Di banyak rumah, berbagai jenis sampah masih sering dibuang ke dalam satu tempat yang sama. Sekilas terlihat praktis, tetapi kebiasaan ini dapat menimbulkan beberapa masalah yang cukup mengganggu.

Misalnya, sisa makanan yang lembap bercampur dengan kemasan plastik atau kertas. Dalam waktu singkat, sampah organik akan mulai membusuk dan menghasilkan bau tidak sedap. Kondisi yang lembap juga dapat mengundang lalat, semut, atau serangga lainnya.

Menurut United States Environmental Protection Agency (EPA), sampah makanan merupakan salah satu sumber utama munculnya bau dan cairan yang dapat membuat area sekitar tempat sampah menjadi kotor dan tidak nyaman.

Akibatnya, area yang sering digunakan sehari-hari seperti dapur, area cuci, atau tempat penyimpanan sampah bisa terasa kurang bersih. Padahal, kenyamanan rumah sering kali dipengaruhi oleh hal-hal kecil yang mungkin tidak selalu kita sadari.

Apakah kamu sudan memilah sampan di rumah?

Ya, sudah

Belum

0 comments
Newest
Newest
Oldest

PODCAST

Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda pada situs web kami, mempersonalisasi konten dan iklan, serta menganalisis lalu lintas kami. Kami juga membagikan informasi tentang penggunaan Anda atas situs web kami dengan mitra periklanan dan analitik kami, yang dapat menggabungkannya dengan informasi lain yang telah Anda berikan kepada mereka atau yang telah mereka kumpulkan dari penggunaan Anda atas layanan mereka. Silakan klik Accept All Cookies jika Anda setuju dengan penggunaan semua cookies kami. Silakan klik Cookies Setting untuk menyesuaikan pengaturan cookies Anda di situs web kami. Anda dapat mengelola pengaturan cookie dengan mengeklik tautan Kebijakan Privasi di footer.
Pengaturan Cookies: