LOVE OTHERS
LOVE OTHERS | 22 April 2026

2. Kenali dan validasi perasaan Si Kecil, bukan mengabaikannya
3. Biarkan Si Kecil Bereksplorasi
Cara orang tua berkomunikasi dan merespons Si Kecil ternyata berperan besar dalam membentuk rasa aman mereka sejak dini. Di usia 0–2 tahun, Si Kecil memang belum bisa memahami kata-kata sepenuhnya. Namun, mereka sangat peka terhadap nada suara, ekspresi wajah, serta respons yang diberikan orang tua. Dari interaksi sederhana inilah, Si Kecil mulai belajar: apakah lingkungan sekitarnya terasa aman, atau justru membingungkan dan menegangkan.
Tanpa disadari, beberapa pola komunikasi sehari-hari yang kurang tepat dapat meningkatkan kecenderungan kecemasan pada anak sejak dini, seperti yang dibahas oleh Psychology Today dan HuffPost. Lalu, pola komunikasi seperti apa yang sebaiknya diterapkan kepada Si Kecil?
Saat Si Kecil terjatuh atau menangis, respons spontan orang tua sering kali berupa panik atau suara yang meninggi. Padahal, Si Kecil sangat sensitif terhadap emosi ini.
Tips:
Tak perlu bereaksi berlebihan, Moms bisa mencoba menenangkan diri terlebih dahulu. Gunakan nada suara yang lembut dan stabil, lalu dekati Si Kecil dengan sentuhan yang menenangkan. Kalimat sederhana seperti, “Nggak apa-apa ya, Mama di sini,” sudah cukup membantu mereka merasa aman. Di usia ini, Si Kecil ‘membaca’ emosi lebih dari memahami kata-kata.
Walaupun belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata, Si Kecil tetap merasakan emosi seperti tidak nyaman, takut, atau gelisah. Tanpa disadari, mengabaikan perasaan anak sering terjadi dalam keseharian, seperti kondisi-kondisi di bawah ini:
Saat ia menangis, langsung dianggap ‘cuma rewel’ tanpa dicari penyebabnya
Mengatakan ‘Udah ya, jangan nangis’ tanpa mencoba memahami apa yang dirasakan
Terburu-buru mengalihkan perhatian tanpa memberi respons emosional (misalnya langsung memberi mainan tanpa menenangkan dulu)
Tips:
Mom dan Dad bisa memvalidasi perasaan Si Kecil melalui cara sebagai berikut:
Respon tangisan dengan cepat dan tenang, bukan diabaikan
Gunakan suara lembut untuk “mengakui” perasaannya, seperti: “Oh, Adek lagi nggak nyaman ya?”
Kombinasikan dengan sentuhan seperti gendong, peluk, atau usap lembut
Respons sederhana ini membantu Si Kecil merasa didengar dan dipahami, yang merupakan dasar penting dalam membangun rasa aman (secure attachment).
Baca juga: Kapan Sebaiknya Mengenalkan Buku Pada Si Kecil?

Keinginan untuk selalu membantu Si Kecil memang wajar, apalagi saat melihat mereka kesulitan di tengah eksplorasinya. Namun, terlalu cepat mengambil alih justru bisa membuat Si Kecil kehilangan kesempatan untuk belajar dan mencoba.
Di usia 0–2 tahun, proses belajar terjadi dari eksplorasi sederhana. Ketika orang tua terlalu sering membantu atau terlalu cepat membantu, Si Kecil terbiasa bergantung dan kurang percaya diri terhadap kemampuannya sendiri.
Beberapa contoh yang sering terjadi dalam keseharian, misalnya:
Saat ia berusaha meraih mainan, tapi langsung disodorkan atau diambilkan
Ketika ia belajar makan sendiri (finger food), namun Mom atau Dad langsung menyuapi karena takut berantakan
Saat ia mencoba tengkurap, merangkak, atau berdiri, tapi langsung dibantu tanpa diberi waktu mencoba
Mom terlalu sering melarang eksplorasi ringan yang sedikit kotor, seperti menginjak rumput, menyentuh tanah (yang sebenarnya aman dalam pemantauan orang tua)
Tips:
Mom dan Dad bisa dukung eksplorasinya melalui respon berikut:
RECOMMENDATION
PODCAST