LOVE OTHERS
LOVE OTHERS | 14 October 2026

Kenapa Imunisasi DPT Penting untuk Si Kecil?
Kapan dan Berapa Kali Imunisasi DPT Diberikan?
Memberikan perlindungan dari penyakit yang dapat dicegah menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang Si Kecil. Salah satunya melalui imunisasi DPT, yang membantu melindungi Si Kecil dari difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus.
Setelah imunisasi, Si Kecil mungkin mengalami beberapa reaksi ringan seperti demam, rewel, atau rasa tidak nyaman di area suntikan. Dengan memahami manfaat dan efek sampingnya, Mom dan Dad dapat lebih siap mendampingi Si Kecil dan menjaga kenyamanannya setelah imunisasi.
Menurut Kementerian Kesehatan RI imunisasi DPT adalah vaksinasi yang membantu memberikan perlindungan terhadap tiga penyakit, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus.
Di Indonesia, pemberian vaksin ini merupakan bagian dari program imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan oleh pemerintah bagi setiap bayi.
DPT adalah vaksin yang mengandung komponen antigen dari bakteri Corynebacterium diphtheriae, Bordetella pertussis, dan Clostridium tetani.

Pemberian imunisasi ini bertujuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar memproduksi antibodi terhadap ketiga patogen tersebut.
Dengan adanya antibodi, tubuh akan lebih siap mengenali dan melawan bakteri. Sehingga ketika terpapar penyakit di kemudian hari, tubuh sudah memiliki bekal perlindungan.
Masa bayi dan anak-anak merupakan periode penting dalam tumbuh kembang. Pada fase ini, sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih berkembang sehingga perlindungan terhadap penyakit menular menjadi hal yang penting.

Pemahaman mengenai bahaya penyakit ini sangat penting bagi setiap Mom dan Dad guna menyadari urgensi pemberian imunisasi secara tepat waktu sesuai jadwal yang ditentukan.
Difteri: Merupakan infeksi bakteri pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang ditandai dengan munculnya selaput abu-abu tebal. Kondisi ini dapat menyebabkan penyumbatan jalan napas, kerusakan jantung, hingga gangguan saraf akibat toksin yang dihasilkan bakteri.
Pertusis: Dikenal juga dengan istilah batuk rejan atau batuk seratus hari yang ditandai dengan batuk terus-menerus dan napas berbunyi. Penyakit ini memiliki risiko berat bagi bayi karena dapat menyebabkan kesulitan bernapas, pneumonia, hingga kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.
Tetanus: Infeksi ini terjadi melalui luka yang terkontaminasi spora bakteri yang kemudian mengeluarkan racun saraf. Gejala utamanya meliputi kaku otot atau kejang otot di seluruh tubuh, termasuk otot rahang yang menyebabkan sulit membuka mulut atau lockjaw.
Melalui pemberian imunisasi, risiko penularan dapat diminimalisir dan tingkat keparahan penyakit dapat ditekan seminimal mungkin.
Sementara itu, keamanan dan efektivitas vaksin DPT telah melalui berbagai riset medis yang mendalam selama puluhan tahun. Vaksinasi terbukti secara signifikan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi bakteri pada anak-anak di seluruh dunia.
Karena itu, melengkapi imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan dapat menjadi salah satu bentuk perhatian Mom dan Dad untuk membantu memberikan perlindungan bagi Si Kecil. Pastikan Mom dan Dad berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai jadwal imunisasi yang sesuai.
Berdasarkan jadwal imunisasi yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi DPT primer diberikan sebanyak 3 kali dan imunisasi DPT tambahan atau booster sebanyak 2 kali.
Berikut ini adalah dosis dan jadwal pemberian imunisasi DPT pada anak :
Dosis 1-3 diberikan ketika anak berusia 2, 3, dan 4 bulan atau 2, 4, dan 6 bulan dengan dosis sebanyak 0,5 ml setiap pemberian.
Dosis keempat atau booster pertama diberikan sebanyak 0,5 ml ketika anak berusia 18 bulan.
Dosis kelima atau booster kedua sebanyak 0,5 ml diberikan saat anak berusia 5-7 tahun.
Dosis booster selanjutnya dapat diberikan pada anak saat ia berusia 10-18 tahun. Booster vaksin tetanus dan difteri juga dapat diberikan lagi setiap 10 tahun sekali.
Sudah
Belum
RECOMMENDATION
PODCAST