LOVE YOUR BODY
LOVE YOUR BODY | 22 January 2026

2. PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)
3. Kelenjar Tiroid Terlalu Aktif
Pernahkah kamu mendapati darah menstruasi yang keluar sangat sedikit, bahkan hanya berupa flek coklat?
Umumnya, menstruasi normal berlangsung selama 3–7 hari dengan volume darah sekitar 30–80 ml. Jika darah yang keluar jauh lebih sedikit dari biasanya atau hanya berlangsung selama 1–2 hari, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai hipomenorea (hypomenorrhea).
Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada banyak kasus, jumlah banyak atau sedikit darah menstruasi berkaitan dengan perubahan atau gangguan hormon, terutama hormon estrogen dan progesteron yang mengatur siklus menstruasi. Berikut beberapa penyebab darah menstruasi keluar terlalu sedikit:
Stres fisik maupun emosional dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Saat mengalami stres, tubuh akan menganggap kondisi tersebut sebagai situasi “darurat”.
Otak kemudian mengaktifkan sistem respons stres, khususnya di bagian hipotalamus. Hipotalamus ini punya peran penting dalam mengatur hormon reproduksi. Hipotalamus bertugas memberi sinyal ke kelenjar pituitar dan ovarium (indung telur). Ketiganya bekerja sama mengatur pelepasan hormon estrogen dan progesteron yang menentukan ovulasi dan menstruasi.
Tekanan akademik, pekerjaan, kurang tidur, atau masalah pribadi bisa memengaruhi ovulasi dan membuat darah menstruasi menjadi lebih sedikit.
Baca juga: 7 Penyebab Keluar Gumpalan Darah saat Menstruasi
PCOS adalah gangguan hormon yang sering dialami perempuan usia produktif, ditandai dengan kadar hormon pria (androgen) yang lebih tinggi dari normal. Kondisi ini dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, jarang menstruasi, atau darah menstruasi yang sangat sedikit.
Gangguan pada kelenjar tiroid, terutama hipertiroidisme, dapat memengaruhi sistem reproduksi. Hipertiroidisme dapat menyebabkan rendahnya kadar protein yang disebut globulin pengikat hormon seks (SHBG). Protein ini berfungsi mengikat hormon seks pria dan wanita. Seseorang dengan tingkat SHBG yang tidak normal mungkin mengalami masalah kesuburan.
Selain itu, peningkatan kadar hormon prolaktin akibat hipertiroidisme dapat menyebabkan gangguan ovulasi, yang memengaruhi siklus menstruasi bahkan membuat seseorang tidak mengalami menstruasi. Salah satu gejalanya adalah perubahan pola menstruasi, termasuk volume darah yang berkurang.

Pada ibu menyusui, hormon prolaktin meningkat untuk membantu produksi ASI. Hormon ini dapat menekan ovulasi sehingga menstruasi menjadi lebih jarang atau darahnya lebih sedikit.
Begitu juga dengan penggunaan Pil KB, suntik KB, implan, atau IUD hormonal dapat menipiskan lapisan dinding rahim. Akibatnya, darah yang luruh saat menstruasi menjadi lebih sedikit dari biasanya. Kondisi ini umumnya masih tergolong normal selama tidak disertai keluhan lain.
Berat badan dan pola makan dapat memengaruhi menstruasi. Kekurangan berat badan yang ekstrem dapat menyebabkan gangguan menstruasi. Selain itu, penurunan atau peningkatan berat badan yang ekstrem juga menyebabkan menstruasi tidak teratur karena perubahan hormon.
Pada dasarnya, darah menstruasi yang sedikit masih bisa tergolong normal pada perempuan. Meski sering kali tidak berbahaya, darah menstruasi yang terlalu sedikit perlu segera ditindaklanjuti jika terjadi hal-hal berikut:
2-3 hari
5-7 hari
10-14 hari
RECOMMENDATION
PODCAST